Seorang pria tua menghabiskan waktu yang panjang di dalam toko, sambil memperhatikan satu demi satu tas ransel anak-anak. Ia berkata kepada saya, “Cucu saya berulang tahun hari ini. Saya harap ia menyukai hadiah ini.” Akhirnya ia mendatangi kasir dengan menggenggam sebuah ransel merah muda bergambar karakter kartun, wajahnya penuh harap dan semangat.
Dalam kegiatan penjangkauan yang diadakan gereja kami di sebuah panti jompo, seorang penghuni lansia bernama Ed menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya bertahun-tahun silam. Hari itu, ia diantar oleh putrinya ke tempat itu lalu ditinggalkan begitu saja di trotoar. Karena duduk di atas kursi roda, Ed tidak mampu berdiri untuk mengejar putrinya. Putrinya kembali ke mobil tanpa menoleh sedikit pun, lalu pergi. Padahal sebelumnya ia sempat berkata, “Kita akan pergi ke hotel yang bagus.” Namun, hari itu adalah terakhir kalinya Ed melihat putrinya.
Pedro menjadi pengikut Yesus pada usia 50 tahun. Tadinya ia seorang pemarah dan pendendam yang sering menyakiti orang-orang di sekitarnya. Setelah menjalani proses konseling dari gerejanya, ia menyesali kehidupannya di masa lalu. “Sekarang saya mempunyai lebih sedikit waktu di depan daripada yang sudah berlalu.” katanya. “Saya ingin mengisi masa depan itu dengan baik, tetapi bagaimana caranya?”
Andres, pemilik sebuah perusahaan elektronik, membagi-bagikan hadiah liburan satu hari ke resor pantai kepada para karyawan dengan rekor penjualan yang melampaui target. Andres juga mengajak Jimmy, putranya yang berusia tujuh tahun. Sebelum berangkat, ia dengan bersemangat menggandeng tangan ayahnya sementara orang-orang masuk ke dalam van. “Kamu juga ikut? Berapa banyak hasil penjualanmu?” tanya salah satu karyawan kepada Jimmy dengan bercanda. “Tidak ada!” jawabnya, sambil menunjuk ayahnya. “Ayah memperbolehkan aku ikut!”
Sewaktu kedua keponakan perempuan saya masih kecil, mereka biasa merayu saya untuk bermain bersama mereka setelah makan malam. Mereka akan mematikan semua lampu di rumah, dan kami pun berjalan pelan-pelan sambil menyeret kaki di dalam kegelapan, saling berpegangan dan tertawa. Mereka senang menakut-nakuti diri sendiri dengan memilih untuk berjalan dalam gelap, karena tahu bahwa mereka bisa menyalakan kembali lampunya kapan saja.
Dante tinggal di suatu kawasan yang rawan banjir di Manila. Saat musim hujan tiba, anak laki-laki itu harus pergi ke sekolah dengan menyeberangi jembatan kayu darurat yang dibangun oleh tetangganya. “Pak Tomas menolong warga di sini agar bisa melakukan perjalanan,” kata Dante. “Beliau memegangku melintasi jembatan dan melindungiku dari hujan.”
Kematian sang suami mengawali masa transisi dalam hidup Nora. Ia meneruskan bisnis perangkat keras yang dibangun suaminya sekaligus merawat ketiga anak mereka seorang diri. “Kuatkan dirimu,” kata teman-teman kepadanya. Namun, apa artinya menjadi kuat? pikirnya. Apakah saya tidak boleh gagal dalam melakukan tanggung jawab saya?
Letty, seorang petugas kebersihan di sebuah gedung perkantoran, dikenal dapat berjalan dengan sangat cepat. Berjalan cepat membuatnya bisa menghindari orang banyak. Saat melewati orang-orang, Letty, yang lama didera kemiskinan dan terbiasa direndahkan, secara refleks menutupi sebagian wajahnya dengan tangan. Ia menyatakan bahwa rasa malunya yang besar timbul karena ia merasa tidak seperti “orang lain yang normal, rupawan, dan berpendidikan.” Namun, hati Letty mulai pulih ketika seorang wanita di tempat ia bekerja mengajaknya berteman.
“Aku mencintaimu. Aku takkan pernah meninggalkanmu.” Julia menyimpan pesan teks dari suaminya agar ia dapat membacanya kapan pun ia merasa takut. Trauma dari masa kecil membuatnya dicekam ketakutan akan ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Julia sering kali meminta jaminan dari suaminya, bahkan selalu menunggu suaminya pulang kerja dengan cemas.